Rabu, 12 Maret 2008

Hebatnya Silaturahim

“Rosul Muhammad SAW bersabda, membina silaturahmi akan memperpanjang jalan rezeki”
Kira-kira seperti itulah yang saya dengar dari Ustadz di sebuah pengajian. Saya tidak ingat kapan, tapi kata-kata itu sangat melekat di benak saya. Dan saya kembali diyakinkan untuk tetap percaya, karena saya sekali lagi membuktikan kehebatan sebuah silaturahmi.

Pagi itu saya mendapat tugas liputan di Stasiun Gambir, Jakarta, meliput lonjakan penumpang menjelang libur panjang. Waktu yang sudah mendekati deadline membuat saya bekerja dengan cepat dan terburu-buru. Dalam hitungan kurang dari lima belas menit, saya cukupkan liputan saya di sana. Apalagi messenger sudah menunggu kaset saya untuk dibawa ke kantor. Lima belas menit adalah waktu yang sangat cepat bagi saya untuk menyelesaikan liputan, karena biasanya saya menghabiskan minimal setengah jam untuk membuat satu liputan, yang berisikan data penumpang, wawancara kepala stasiun, dan wawancara calon penumpang.

Begitu selesai, lega sudah rasanya. Saya pun bergegas masuk ke mobil, untuk menuju ke tempat liputan saya berikutnya di kawasan Kuningan. Setelah tiba di Kuningan, saya baru sadar, tripod (kaki kamera) saya ketinggalan di stasiun Gambir. Padahal seingat saya, tripod itu hanya saya letakkan begitu saja di dekat tiang. Tanpa saya titipkan pada siapapun.

Panik ngga karuan rasanya. Dalam pikiran saya, jika tripod itu sampai hilang, saya harus menggantinya. Semurah-murahnya tripod, paling tidak uang dua juta bisa amblas..

Dalam kepanikan itu, saya mencoba tenang dan mencari pemecahan. Akhirnya saya ingat punya kenalan di sana, yang sudah seringkali saya wawancara. Tidak lain adalah Pak Suyatno, Kepala Stasiun Gambir.

“Pak Yatno, tripod kamera saya ketinggalan di pintu selatan tadi..” kata saya mengawali pembicaraan melalui selular.
“Lho? Koq bisa? Coba saya cari dulu ya..” jawab Pak Yatno

Sekitar lima menit kemudian, selular saya berdering, dari Pak Yatno.

“Tenang mas, masih ada barangnya..ada di ruangan saya ya..” kabarnya..

Bagai disiram air di tengah siang hari bolong. Lega..

Bayangkan, jika saya tidak kenal Pak Yatno, mungkin tripod saya sudah diambil orang, dan saya harus kehilangan uang untuk menggantinya. Bagi saya, ini adalah salah satu bukti kekuatan silaturahmi itu. Bagaimana silaturahmi, bisa memperpanjang jalan rezeki..walaupun hingga saat ini, saya akui silaturahmi saya masih jauh dari kata bagus, apalagi sempurna..

Sumber : http://dwihartono.com

Menjaga Silaturahim

Menjaga Silaturahmi

INSYA Allah, tidak kurang sepekan lagi kita akan mengakhiri puasa Ramadan 1426 H ini. Dalam suasana seperti ini, ada satu suasana khas yaitu silaturahmi di mana-mana, yakni saling berkunjung setelah salat Idul Fitri dilaksanakan.

Silaturrahmi terdiri atas dua suku kata, yakni Silah dan ar-Rahmi. Silah artinya hubungan atau menghubungkan sedangkan ar-Rahm berasal dari Rahima-Yarhamu-Rahmun/ Rahmatan yang berarti lembut dan kasih sayang. Dengan demikian silaturahmi atau silaturahim secara bahasa adalah menjalin hubungan kasih sayang dengan saudara dan kerabat yang masih ada hubungan darah (senasab).

Seseorang tidak dapat dikatakan menjalin hubungan silaturahmi bila ia berkasih sayang dengan orang lain sementara saudara dan kerabatnya dia jadikan musuh. Islam dalam hal ini mengajarkan kepada kita tentang skala prioritas, yaitu dahulukanlah keluarga dan kaum kerabatmu baru kemudian orang lain. Hubungan baik dengan orang lain jangan sampai merusak hubungan kekeluargaan. Hubungan kasih sayang dengan istri jangan sampai merusak hubungan kita dengan orang tua dan saudara.

Di dalam Alquran secara spesifik Allah memerintahkan umat Islam untuk menjalin silaturahmi/ silaturahim; “Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan isterinya; dan daripada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu” (An-Nisa:1).

Menyambung hubungan kekerabatan adalah wajib dan memutuskannya merupakan dosa besar. Rasulullah saw bersabda: “Tidak akan masuk surga orang yang memutuskan hubungan persaudaraan” (Muttafaq 'Alaih).

Karena itu, Apabila manusia memutuskan apa-apa yang diperintahkan oleh Allah untuk dihubungkan. Maka ikatan sosial masyarakat akan hancur berantakan, kerusakan menyebar di setiap tempat, permusuhan terjadi dimana-mana, sifat egoisme muncul kepermukaan. Sehingga setiap individu masyarakat menjalani hidup tanpa petunjuk, seorang tetangga tidak mengetahui hak tetangganya, seorang fakir merasakan penderitaan dan kelaparan sendirian karena tidak ada yang peduli.

Dan jangan sampai kita memutuskan tali silaturahmi hanya karena pekerjaan dan jabatan. Silaturrahmi lebih tinggi nilainya dari itu semua. Allah berfirman : “Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan (silaturahim) ? (QS. Muhammad: 22).

Namun, silaturahmi tidak hanya bagi saudara sedarah (senasab) tapi juga saudara seiman. Allah swt memerintahkan agar kita menyambung hubungan baik dengan orang tua, saudara, kaum kerabat, dan orang-orang mukmin yang lain, terutama gerakan-gerakan Islam.

Karena itu, mudah-mudahan dengan silaturahmi kita bisa saling memahami karakter perjuangan masing-masing, tampa harus menebar energi negatif di tenaga masyarakat, sehingga hubungan semakin erat dalam meresepon berbagai persoalan umat. Wallah a’lam bi shawab. Oleh :Abd Haris Amrin
(Lajnah I’lamiyah DPD Hizbut Tahrir)

Tali Silaturahim

“Tali Silaturahmi” Cetak halaman ini Kirim halaman ini melalui E-mail
Jumat, 06 Oktober 2006
Menurut Rasulullah, Allah SWT akan melapangkan rezeki orang yang suka menyambung tali silaturahmi. Allah juga akan memanjangkan umur kepadanya
Muhammad Baqir ra pernah mendapat wasiat dari ayahnya (Imam Zainul Abidin, ra). Ia (kata Baqir) telah berwasiat kepadaku, “Janganlah duduk bersama lima jenis manusia. Jangan berbicara kepada mereka, bahkan jangan berjalan bersama mereka, meskipun tidak disengaja.

Pertama, Orang Fasik. Karena ia akan menjualmu hanya untuk sesuap makanan.

Kedua, Orang Bakhil. Karena ia akan memutuskan hubungan di saat kita kita memerlukan.

Ketiga, Pembohong. Karena ia akan menipumu. Karena ia akan senantiasa menipumu.

Keempat, Orang Bodoh. Karena ia berkeinginan memberikan manfaat bagimu, namun karena kebodohannya, ia jutru merugikanmu.

Kelima, Orang yang memutuskan tali silaturahmi. Karenanya, janganlah berdekatan dengannya.

***

Memutus tali silaturahmi adalah sesuatu yang dilarang oleh agama Islam. Dalam Q.S an-Nisa’: 1, Allah berfirman, “Dan bertaqwalah kepada Allah yang dengan mempergunakan nama-namaNya, kamu saling meminta, dan (peliharalah) hubungan silaturahmi.”

Dalam kitab Ahkam al-Qur'an-nya, Ibnu al-Arabi menafsirkan ayat ini dengan: "Takutlah kepada Allah untuk berdosa kepada-Nya dan takutlah untuk memutus tali silaturahmi".

Dari Abdullah bin Abi Aufa r.a. berkata, ketika sore hari pada hari Arafah, pada waktu kami duduk mengelilingi Rasulullah saw, tiba-tiba beliau bersabda, “Jika di majelis ini ada orang yang memutuskan silaturahmi, silahkan berdiri, jangan duduk bersama kami.” Dan ketika itu, diantara yang hadir hanya ada satu yang berdiri, dan itupun duduk di kejauhan. Dan dalam waktu yang tidak lama, ia kemudian duduk kembali.

Rasulullah bertanya kepadanya,”Karena diantara yang hadir hanya kamu yang berdiri, dan kemudian kamu datang dan duduk kembali, apa sesungguhnya yang terjadi? Ia kemudian berkata, “Begitu mendengar sabda Engkau, saya segera menemui bibi saya yang telah memutuskan silaturahmi dengan saya. Karena kedatangan saya tersebut, ia berkata, “Untuk apa kamu dating, tidak seperti biasanya kamu dating kemari.” Lalu saya menyampaikan apa yang telah Engkau sabdakan. Kemudian ia memintakan ampunan untuk saya, dan saya meminta ampunan untuknya (setelah kami berdamai, lalu saya datang lagi ke sini).

Lalu Rasulullah bersabda, “Kamu telah melakukan perbuatan yang baik, duduklah, rahmat Allah tidak akan turun ke atas suatu kaum jika di dalamnya ada orang yang memutuskan silaturahmi.”

Rasulullah pernah bersabda,”Tidak ada satu kebaikanpun yang pahalanya lebih cepat diperoleh daripada silaturahmi, dan tidak aka satu dosapun yang adzabnya lebih cepat diperoleh di dunia, disamping akan diperoleh di akherat, melebihi kezaliman dan memutuskan tali silaturahmi.”

Dalam sebuah riwayat lain, dari Anas r.a, ia berkata bahwa Rasullah saw bersabda, “Barangsiapa yang suka dilapangkan rezekinya dan dilamakan bekas telapak kakinya (dipanjangkan umurnya), hendaknya ia menyambung tali silaturahmi. [Mutafaq ‘alaih]

Ali r.a meriwayatkan dalam sebuah hadist, “Barangsiapa yang mengambil tanggungjawab atas suatu perkara, aku akan menjamin baginya empat perkara. Barangsiapa bersilaturahmi, umurnya akan dipanjangkan, kawan-kawannya akan cinta kepadanya, rezekinya akan dipalangkan, dan ia aman masuk ke dalam surga. (Kanzul ‘Ummal).

Al-Qurthubi mengatakan, "Seluruh agama sepakat bahwa menyambung silaturahmi wajib dan memutuskannya diharamkan". Ibnu Abidin al-Hanafi mengatakan;"Menyambung silaturahmi wajib meskipun hanya dengan mengucapkan salam, memberi hadiah, memberi pertolongan, duduk bareng, ngobrol, bersikap ramah dan berbuat baik. Kalau seseorang yang hendak disilaturahmi berada di lain tempat cukup dengan berkirim surat, namun lebih afdol kalau ia bisa berkunjung ke tempat tinggalnya".

Orang yang menyambung silaturahmi akan mendapat balasan di dunia berupa: kedekatan kepada Allah, rezekinya diluaskan, umurnya dipanjangkan, rumahnya dimakmurkan, tercegah dari mati dengan cara tidak baik, dicintai Allah dan dicintai keluarganya.

Yang lebih penting dari itu semua, di akhirat kelak, ia akan mendapat balasan surga dari Allah SWT: Rasulullah ditanya oleh seorang sahabat, "Wahai Rasulullah kabarkanlah kepadaku amal yang dapat memasukkan akan ke surga". Rasulullah menjawab; "Engkau menyembah Allah, jangan menyekutukan-Nya dengan segala sesuatu, engkau dirikan shalat, tunaikan zakat dan engkau menyambung silaturahmi". (HR. Bukhari).

Dan yang terakhir, Rasulullah pernah berkata pada sahabat Abu Bakar ash-Shiddiq r.a bahwa tiga perkara berikut ini benar adanya. Pertama, barangsiapa yang dizalimi kemudian ia memaafkan, maka kemuliannya akan bertambah. Kedua, barangsiapa yang meminta-minta untuk meningkatkan hartanya, maka, hartanya akan berkurang. Ketiga, barangsiapa yang membuka pintu pemberian dan silaturahmi, maka hartanya kan bertambah. [www.hidayatullah.com]


Manfaat Silaturahmi

Manfaat Silaturahmi
Oleh : Uti Konsen.U.M.

BERSILATURRAHMI itu termasuk amalan mulia yang berpahala besar. Ruang lingkupnya tidak hanya terbatas pada sesama manusia, tetapi juga pada dunia fauna dan flora serta mahluk jin. Hanya dengan syaitan kita tidak boleh bersililaturrahmi. Bahkan terhadap orang-orang muslim yang sudah wafat pun, Rasulullah SAW tetap menyuruh kita untuk terus menjalin silaturrahmi, yaitu dengan menziarahi kuburannya, mendoakannya dan atau berbuat baik kepada teman-teman dekat mereka yang masih hidup. "Ziarah kubur adalah Sunnah Rasulullah SAW. Ziarah juga adalah cara kita untuk mendoakan orang-orang yang telah mendahului kita," demikian antara lain tulis K.H.Dr. Jalaluddin Rakhmat dalam bukunya "Memaknai Kematian". Al Quran mencontohkan diantara doa untuk mereka : "Tuhanku ampunilah orang-orang yang telah mendahului kami dalam keimanan" (QS.Al Hasyr : 10).

Allah SWT berfirman : "Dan sesungguhnya pada kehidupan hewan itu benar-benar terdapat pelajaran bagi kamu". (QS.An-Nahl (16) : 66). Dalam hal bersilaturrahmi misalnya kita bisa mencontoh semut dan lebah. Semut binatang kecil pemakan gula tapi tidak pernah sakit gula (diabetes). Resepnya, pertama karena semut senang bersilaturrahmi. Tengoklah setiap berpapasan antara sesama semut sejenis mereka saling "bersalaman" yang terlihat dari kedua kepalanya saling ketemu. Kedua, bila seekor semut menemukan rezeki, mereka tidak mau makan sendiri tapi memberi tahu semut-semut lainnya. Setelah berkumpul, baru makanan itu mereka bawa kesatu tempat dan dinikmati bersama. Demikian juga lebah. "Lebah sangat disiplin dan mengenal pembagian kerja yang sangat baik. Sarangnya dibangun berbentuk segi enam, yang telah terbukti sangat ekonomis dan kuat dibandingkan bila segi empat atau lima". Antara tulis Ir. Permadi Alibasyah dalam bukunya "Bahan Renungan Kalbu". Menurut penyelidikan setiap sarang lebah dihuni oleh kurang lebih 90.000 ekor lebah. Karena masing-masing mentaati aturan mereka bisa hidup rukun dan tidak pernah terjadi perkelahian.

Menurut penelitian yang diadakan di kota Kopenhagen, Denmark, bahwa terhadap tanaman yang disantuni : "Dipuji, diajak bicara, dielus-elus, dirawat, tumbuhnya lebih subur dan buahnya lebih lebat, dibandingkan dengan tanaman yang dicuekin."

Di Australia juga pernah dibuktikan, bahwa seekor sapi yang diperah susunya dengan menggunakan tangan si peternak (diperah secara manual) ternyata lebih banyak mengeluarkan air susu dibanding dengan sapi yang diperah dengan menggunakan mesin pemerah susu.

Seorang dokter hewan di Eropa pernah melakukan penelitian terhadap 2 ekor anjing yang sama-sama tertabrak mobil. Kepada anjing yang satu diberi obat-obatan dan ruangan yang memadai, namun selama pengobatan anjing itu tidak pernah dielus-elus atau mendapatkan sentuhan langsung dari dokter yang merawatnya. Sedangkan anjing yang satu lagi diberi obat-obatan dan ruangan yang juga memadai, tetapi setiap hari sang dokter selalu mengelus-elus. membelai dan "berbicara" kepada anjing tersebut. Hasilnya menunjukkan bahwa anjing yang mendapat sentuhan kasih sayang - di elus-elus, dibelai dan diajak bicara - ternyata lebih cepat sembuh daripada anjing yang tidak mendapat sentuhan kasih sayang (Buku Half Pull - Half Empty oleh Parlindungan Marpaung).

Peristiwa ini terjadi dalam tahun 1983 ketika bulan Ramadhan di salah satu kota di Kalimantan Timur. Seorang pengusaha mengadakan acara berbuka puasa bersama. Yang diundang para pejabat setempat, tokoh-tokoh masyarakat - agama - para pengusaha serta beberapa tetangganya. Menjelang waktu berbuka para undangan mulai berdatangan. Diantara tamu yang hadir itu ada seseorang yang pakaiannya apa adanya, sehingga membedakan ia dengan tamu-tamu lainnya yang berpakaian parlente. Si Tuan rumah merasa kurang enak dengan kehadiran tamu yang satu ini. Setelah dicek, ternyata memang ia tidak termasuk dalam daftar undangan. Lalu si Tuan rumah menyuruh keluarganya untuk membujuk si Pulan itu agar bersedia keluar. Karena ia orang yang lugu, bujukan itu ia turuti saja. Tapi bersamaan dengan kepergiannya, ibu-ibu yang mengurusi menu untuk dihidangkan itu, menjadi sangat terkejut karena semua masakannya berbau basi dan berlendir. Untunglah dalam suasana kritis yang nyaris memalukan si Tuan rumah itu, ada seorang ulama yang membisikkan kepadanya, agar mencari orang yang disuruh pergi tadi. Singkat cerita, ternyata orang tadi berhasil ditemukan dan bersedia pula untuk hadir kembali. Aneh tapi nyata. Begitu lelaki itu masuk ke dalam rumah, ibu-ibu di dapur bersuka ria, karena makanan yang tadinya berbau basi, kini sudah kembali seperti semula dengan aroma yang merangsang selera.

Kenapa peristiwa menakjubkan itu terjadi? Dari segi logika memang sulit dicerna. Dia hanya bisa dijawab melalui agama. Bukankah Rasulullah SAW. pernah bersabda : "Bila seorang tamu masuk ke dalam rumah seorang mukmin maka bersama dia masuklah seribu barakah dan seribu rahmat". Tidak mustahil, pada lelaki lugu itulah berlaku janji Rasulullah SAW tersebut. Lelaki itu seorang miskin yang tinggal tidak jauh dari rumah yang punya hajat. Dia mencium aroma masakan yang merangsang selera. Apalagi di bulan puasa menjelang berbuka puasa. Mungkin karena saking kepinginnya ia pun memberanikan diri hadir. "Tokh tetangga saya juga. Mungkin dia hanya lupa saja mengundang saya", kira-kira begitulah bisik hatinya. Kasihan juga ya?. Lalu bagaimana para undangan lainnya ?. Ya bisa saja rasa ikhlas kehadirannya tidak semurni seperti lelaki yang satu itu. Boleh jadi kehadiran mereka karena banyak factor pertimbangan yang bersifat duniawi. Maklumlah si Pengundang itu adalah seorang pengusaha cukup handal. Wallahualam.

Ada lagi pengalaman seorang dokter internis di Jakarta. Ia menderita penyakit aneh. Setiap buang air kecil merasa perih. Sudah berkali-kali diperiksa di beberapa rumah sakit di Jakarta, tapi belum ditemukan jenis penyakitnya. Akhirnya diputuskan untuk berobat ke luar negeri. Seorang dokter yang juga dai, salah seorang sohibnya memberi nasehat : "Ada baiknya sebelum berangkat anda pamit dengan para tetangga dan beberapa teman dekat anda". "Bagaimana caranya ?", tanyanya. " Ya, undang saja mereka untuk hadir salat magrib bersama di rumah anda dan menjamu mereka sekedarnya". Dia setuju. Pada suatu hari usai mengadakan acara tersebut, ketika sang dokter internis ini buang air kecil sebelum pergi tidur, diluar dugaannya, rasa perihnya hilang sama sekali. Ketika perihal ini ia sampaikan kepada sohibnya, sambil guyon dokter yang juga dai ini berkata : "Ya tidak aneh. Karena selama ini anda tidak pernah mengadakan acara silaturrahmi seperti itu khan?. Tidak mustakhil penyakit anda lenyap lantaran doa mereka". Lantas beliau menyampaikan hadis Rasulullah SAW : "Siapa yang senang dimurahkan jalan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, hendaklah senang menjalin silaturrahmi ". Bukankah dalam satu hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW. bersabda : "Jagalah harta anda dengan zakat, obatilah sakit anda dengan sedekah dan hadapilah gelombang hidup dengan doa dan tawadhu".

Ujar Sun Yat Sen : "Banyak orang menyukai kekerasan padahal manusia hanya bisa ditundukkan oleh kelembutan".

Wallahualam.

http://www.pontianakpost.com

Rahasia Silaturahmi

Rahasia Silaturahmi

"Tahukah kalian tentang sesuatu yang paling cepat mendatangkan kebaikan ataupun keburukan? 'Sesuatu yang paling cepat mendatangkan kebaikan,' sabda Rasulullah SAW, 'adalah balasan (pahala) orang yang berbuat kebaikan dan menghubungkan tali silaturahmi, sedangkan yang paling cepat mendatangkan keburukan ialah balasan (siksaaan) bagi orang yang berbuat jahat dan yang memutuskan tali persaudaraan" (HR Ibnu Majah).

Silaturahmi tidak sekadar bersentuhan tangan atau memohon maaf belaka. Ada sesuatu yang lebih hakiki dari itu semua, yaitu aspek mental dan keluasan hati. Hal ini sesuai dengan asal kata silaturahmi itu sendiri, yaitu shilat atau washl, yang berarti menyambungkan atau menghimpun, dan ar-rahiim yang berarti kasih sayang.

Makna menyambungkan menunjukkan sebuah proses aktif dari sesuatu yang asalnya tidak tersambung. Menghimpun biasanya mengandung makna sesuatu yang tercerai-berai dan berantakan, menjadi sesuatu yang bersatu dan utuh kembali. Tentang hal ini Rasulullah SAW bersabda, "Yang disebut bersilaturahmi itu bukanlah seseorang yang membalas kunjungan atau pemberian, melainkan bersilaturahmi itu ialah menyambungkan apa yang telah putus" (HR Bukhari).

Oleh karena itu, menjadi sangat penting bagi kita untuk menyadari bahwa silaturahmi tidak hanya merekayasa gerak-gerik tubuh, namun harus melibatkan pula aspek hati. Dengan kombinasi bahasa tubuh dan bahasa hati, kita akan mempunyai kekuatan untuk bisa berbuat lebih baik dan lebih bermutu daripada yang dilakukan orang lain pada kita.

Kalau orang lain mengunjungi kita dan kita balas mengunjunginya, ini tidak memerlukan kekuatan mental yang kuat. Namun, bila ada orang yang tidak pernah bersilaturahmi kepada kita, lalu dengan sengaja kita mengunjunginya, maka inilah yang disebut silaturahmi. Apalagi kalau kita bersilaturahmi kepada orang yang membenci kita atau seseorang yang sangat menghindari pertemuan dengan kita, lalu kita mengupayakan diri untuk bertemu dengannya. Inilah silaturahmi yang sebenarnya.

Dalam sebuah hadis diungkapkan, "Maukah kalian aku tunjukkan amal yang lebih besar pahalanya daripada shalat dan shaum?" tanya Rasul pada para sahabat. "Tentu saja," jawab mereka. Beliau kemudian menjelaskan, "Engkau damaikan yang bertengkar, menyambungkan persaudaraan yang terputus, mempertemukan kembali saudara-saudara yang terpisah, menjembatani berbagai kelompok dalam Islam, dan mengukuhkan tali persaudaraan di antara mereka adalah amal saleh yang besar pahalanya. Barangsiapa yang ingin dipanjangkan umurnya dan diluaskan rezekinya, hendaklah ia menyambungkan tali silaturahmi" (HR Bukhari Muslim).

Dari sini terlihat jelas, betapa pentingnya menyambungkan tali silaturahmi dan memperkuat nilai persaudaraan tersebut. Betapa tidak! Dengan silaturahmi maka akan terjalin rasa kasih sayang dengan sesama manusia, bahkan dengan makhluk Allah lainnya. Bila ini terjadi maka rahmat dan kasih sayang Allah pun akan turun dan menaungi hidup kita.

Tapi sebaliknya, rahmat dan kasih sayang Allah akan menjauh bila tali silaturahmi sudah terputus di antara kita. Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya rahmat Allah tidak akan turun kepada suatu kaum yang di dalamya ada orang yang memutuskan tali persaudaraan".

Seorang sahabat yang bernama Abu Awfa pernah bekisah. Ketika itu, kata Abu Awfa, kami berkumpul dengan Rasulullah SAW. Tiba-tiba beliau bersabda, "Jangan duduk bersamaku hari ini orang yang memutuskan tali silaturahmi". Setelah itu seorang pemuda berdiri dan meninggalkan majelis Rasul. Rupanya sudah lama ia memendam permusuhan dengan bibinya. Ia segera meminta maaf kepada bibinya tersebut, dan bibinya pun memaafkannya. Ia pun kembali ke majelis Rasulullah SAW dengan hati yang lapang.

Sahabat, bagaimana mungkin hidup kita akan tenang kalau di dalam hati masih tersimpan kebencian dan rasa permusuhan. Perhatikan keluarga kita, kaum yang paling kecil di masyarakat. Bila di dalamnya ada beberapa orang saja yang sudah tidak saling tegur sapa, saling menjauhi, apalagi kalau di belakang sudah saling menohok dan memfitnah, maka rahmat Allah akan di jauhkan dari rumah tersebut. Dalam skala yang lebih luas, dalam lingkup sebuah negara. Bila di dalamnya sudah ada kelompok yang saling jegal, saling fitnah, atau saling menjatuhkan, maka dikhawatirkan bangsa tersebut akan semakin jauh dari rahmat dan pertolongan Allah SWT.

Dari sini bisa kita pahami kenapa Rasul tidak menoleransi sekecil apapun perbuatan yang bisa menimbulkan perpecahan dan permusuhan. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda, "Berhati-hatilah kalian terhadap prasangka, sebab prasangka itu sedusta-dustanya cerita. Jangan pula menyelidiki, mematai-matai, dan menjerumuskan orang lain. Dan janganlah saling menghasud, saling membenci, dan saling membelakangi. Jadilah kalian sebagai hamba Allah yang bersaudara" (HR Bukhari Muslim).

Silaturahmi adalah kunci terbukanya rahmat dan pertolongan Allah SWT. Dengan terhubungnya silaturahmi, maka ukhuwah Islamiyah akan terjalin dengan baik. Ini sangat penting. Sebab, bagaimana pun besarnya umat Islam secara kuantitatif, sama sekali tidak ada artinya, laksana buih di lautan yang mudah diombang-ambing gelombang, bila di dalamnya tidak ada persatuan dan kerja sama untuk taat kepada Allah. Wallahu a'lam bish-shawab.

( KH Abdullah Gymnastiar )